Jam Buka

Mon - Fri: 7AM - 7PM

Menampilkan: 1 - 3 dari 3 HASIL
judi

[HOAKS] Anak yang Tidak Divaksin Bebas dari Infeksi Telinga – Portal Kesehatan Masyarakat

Narasi yang beredar menyiratkan bahwa anak-anak akan lebih sehat jika mereka tidak divaksin. Padahal, faktanya malah sebaliknya.
Asisten profesor pediatrik dan penyakit menular anak di Vanderbilt University Medical Center, Sophie Katz mengungkapkan bahwa vaksin justru menurunkan tingkat infeksi.
“Ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa vaksin anak-anak menurunkan tingkat infeksi telinga,” kata Katz, dilansir Leadstories.
Ada dua vaksin yang mampu melawan dua bakteri paling umum penyebab infeksi telinga, Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae.
Ada pula Cochrane Review yang menunjukkan bahwa vaksin influenza mengurangi infeksi telinga pada bayi dan anak-anak.
“Anak-anak yang menerima vaksin ini mempunyai lebih sedikit infeksi telinga dibandingkan anak-anak yang tidak menerima vaksinasi. Anak-anak tidak terkena infeksi telinga karena sudah divaksin,” ujar Katz.
Pendapat berikutnya disampaikan oleh pakar penyakit menular di American Academy of Pediatrics Council on Infectious Disease, David Kimberlin.
“Data menunjukkan dengan pasti bahwa vaksin anak-anak seperti vaksin pneumokokus, vaksin Hib, vaksin influenza, dan lain-lain dapat mencegah infeksi telinga,” kata Kimberlin.
Narasi yang beredar mengeklaim bahwa anak yang divaksin bebas infeksi telinga.
Padahal, vaksin dan infeksi telinga tidak terhubung sebagai kejadian sebab-akibat.
“Data dari anak yang tidak divaksin (atau serangkaian anak yang tidak divaksin) yang belum pernah mengalami infeksi telinga tidak berarti bahwa vaksin menyebabkan infeksi telinga. Namun, penelitian menunjukkan bahwa vaksinasi berhubungan dengan penurunan terjadinya infeksi telinga,” kata juru bicara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC, dikutip dari Leadstories.
Ada dua penelitian yang membuktikan bahwa vaksin tidak menyebabkan infeksi telinga. Penelitian pada 2010 dan 2017.
Ada bermacam vaksin yang direkomendasikan untuk anak sejak lahir sampai usia 18 tahun.
Pemberian vaksin dimaksudkan agar anak-anak terhindar dari penyakit menular, sehingga uji klinis dilakukan untuk meminimalisasi risiko atau efek samping.



judi

[SALAH] Pesepak Bola Qatar Alami Serangan Jantung Setelah Divaksin Covid-19 – Portal Kesehatan Masyarakat

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim video pesepak bola Qatar alami serangan jantung setelah vaksin Covid-19 dengan menangkap layar video tersebut untuk dijadikan bahan penelusuran menggunakan Yandex.

Penelusuran mengarah pada artikel berjudul “Еще сердечный приступ прямо на поле – в Катаре. Конвульсии выглядели страшно, но парня спасли” yang dimuat situs sports.ru, pada 10 Januari 2022. Situs tersebut memuat culikan foto yang identik dengan klaim video.

Situs sports.ru menyebutkan, pemain sepak bola klub Al-Wakra Ousmane Koulibaly mengalami pingsan dan kejang-kejang akibat serangan jantung saat pertandingan Al-Rayyan dan Al-Wakrah di Qatar berlangsung.

Penelusuran dilanjutkan menggunakan Google Search dengan kata kunci ‘Ousmane Koulibaly faints after vaccine’. Penelusuran mengarah pada artikel berjudul “The Collapse of a Qatari Player During a Match Has Nothing to Do With COVID-19 Vaccination” yang dimuat situs misbar.com, pada 20 Januari 2022.

Situs misbar.com menyebutkan Al-Wakrah SC menghadapi Al-Rayyan SC dalam pekan pertandingan ke-13 Qatar Stars League awal bulan ini (QSL). Babak pertama berakhir dengan Coulibaly Al-Ousman Wakrah ambruk di lapangan, gemetar dan kejang-kejang.

Petugas media Al-Wakrah Mohammed Al-Sulaiti menyatakan menanggapi klaim bahwa suntikan booster Covid-19 menyebabkan serangan jantung pemain, Al-Sulaiti menyatakan bahwa Ousmane belum menerima dosis ketiga. “Dia mengambil dosis kedua 8-9 bulan yang lalu dan tidak menunjukkan gejala sakit,” tambah Al-Sulaiti.

Perlu dicatat bahwa Coulibaly adalah yang terbaru dalam barisan panjang pesepakbola yang menderita masalah jantung dan jantung di lapangan, contoh paling terkenal adalah cobaan mengerikan Eriksen dalam pertandingan pembukaan Euro 2020 Denmark melawan Finlandia. Namun, Badan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan (MHRA), regulator obat dan vaksin Inggris, mengatakan kepada Reuters bahwa saat ini tidak ada bukti untuk mendukung klaim yang menghubungkan vaksin COVID-19 dengan peningkatan atlet yang pingsan atau meninggal karena masalah jantung seperti sebagai miokarditis.



judi

[SALAH] Kulit Bayi Baru Lahir Melepuh karena Sang Ibu Divaksin COVID-19 – Portal Kesehatan Masyarakat

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim kulit bayi yang baru lahir melepuh karena sang ibu disuntik vaksin COVID-19. Penelusuran dilakukan dengan menghubungi Dokter Spesialis Patologi Klinik Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr Tonang Dwi Ardyanto, Sp. PK (K), Ph.D, FISQua.

dr Tonang mengatakan bahwa sampai saat ini tidak ada bukti vaksinasi COVID-19 saat hamil dapat menyebabkan kulit bayi yang baru lahir melepuh.

“Kalau itu suatu kasus nyata, maka tentu penelusuran, Tim Komnas KIPI yang menjawabnya. Tapi kalau itu gambar yang disambung-sambungkan, maka sampai saat ini tidak terbukti hubungan antara vaksinasi COVID-19 saat hamil dengan kejadian tersebut,” kata dr Tonang kepada Liputan6.com, Rabu (2/3/2022).

Menurut dr Tonang, gangguan pada kulit bayi ada beberapa jenis. Pertama, Hemolytic Disease of Newborn (HDN). HDN adalah penggumpalan dan pecah (lisis) nya eritrosit (sel darah merah) janin atau bayi baru lahir.

Hal ini diakibatkan ketidakcocokan (incompatibilitas golongan darah rhesus) antara ibu dan janin yang dikandungnya. Ketidakcocokan itu memicu reaksi imunologi, berujung pada penggumpalan dan pecahnya sel darah merah janin.

“Pecahan tersebut kemudian menumpuk di bawah kulit. Pada reaksi yang berat dan hebat, dapat menimbulkan kematian dari janin atau bayi yang baru saja dilahirkan. Kondisi dapat terjadi – tidak pasti terjadi – pada Ibu dengan rhesus negatif yang mengandung janin dengan golongan darah rhesus positif. Angka kejadian sekitar 3-80 per 100.000 kelahiran,” ungkap dr Tonang.

Kemudian ada Staphylococcal Scalded Skin Syndrome (S4). Hal ini terjadi karena infeksi oleh bakteri Staphylococcus Aureus. Bakteri tersebut memicu peradangan berat sampai kulit bisa mengelupas. Biasanya terjadi pada bayi baru lahir, anak-anak, dan orang dengan daya tubuh melemah (immunocompromised).

“Angka kejadiannya sangat jarang, tapi harus selalu diwaspadai,” ucap dr Tonang.

“Jadi kedua penyakit tersebut, tidak berhubungan dengan pemberian vaksin pada ibu hamil. Sebelum era COVID-19 pun, pada ibu hamil kadang diberikan vaksinasi Tetanus Toksoid untuk mencegah risiko infeksi tetanus,” sambung dr Tonang.