Jam Buka

Mon - Fri: 7AM - 7PM

Menampilkan: 1 - 5 dari 5 HASIL
judi

Sebagian Benar, Konten tentang Tentara Israel Menangkap Anak dan Perempuan Palestina – Portal Kesehatan Masyarakat

Tempo menverifikasi unggahan itu menggunakan layanan reverse image search dari mesin pencari Google. Ditemukan bahwa sebagian potongan video sama dengan berita terkait kekerasan tentara Israel (IDF) terhadap warga Palestina. Berikut hasil penelusurannya:
Video 1

Video tersebut diawali memperlihatkan seorang tentara yang menuntun paksa seorang anak, dengan menarik lengannya, sambil menelepon. Video itu sama dengan yang diunggah website Palsolidarity.org pada 23 April 2014.
Website tersebut dioperasikan organisasi International Solidarity Movement (ISM) yang berusaha melindungi warga Palestina dengan melakukan demonstrasi, perekaman foto dan video kekerasan yang dialami warga, serta mempublikasikannya.
Anak dalam video itu bernama Rami Rajabi yang saat itu berusia enam tahun. Website memberi keterangan bahwa ia kedapatan melempar beberapa kerikil ke pos pemeriksaan Israel di Kota Hebron, Tepi Barat.
Kemudian tiga orang tentara Israel muncul dari gang dan mencengkeram lengannya, serta menariknya menuju pos pemeriksaan. Setelah mendapatkan tekanan dari para aktivis dan penduduk lokal, tentara Israel melepaskan anak tersebut.
Video 2

Pada detik ke-13 video memperlihatkan dua orang tentara membopong paksa seorang anak yang tampak memberontak dan menangis. Video yang sama juga didapatkan di website Palsolidarity.org pada 2 Oktober 2014.
Anak dalam video adalah salah satu dari pelajar yang sekolahnya diserang granat, gas air mata, dan granat kejut oleh tentara Israel pada akhir Agustus 2014. Anak-anak juga dilaporkan mendapat serangan dalam perjalanan berangkat dan pulang sekolah di salah satu pos pemeriksaan Kota Hebron.
Sebagian anak-anak itu pun berusaha membalas dengan melemparkan batu ke pos pemeriksaan. Awal September 2014 seorang anak berusia tujuh tahun ditahan dan tiga lainnya ditangkap oleh tentara Israel. Sampai awal Oktober 2014, tentara Israel kerap melontarkan granat kejut dan gas air mata ke arah anak-anak sekolah tersebut.
Video 3

Pada detik ke-22 video yang beredar memperlihatkan seorang perempuan berkacamata dan berkerudung putih ditarik orang berseragam sampai jatuh. Video yang sama ditemukan salam salah satu berita dari media asal Qatar, Aljazeera.net pada 21 September 2015.
Berita itu menyatakan, video menampilkan serangan pasukan pendudukan Israel terhadap warga Palestina di Kota Tua Yerusalem. Pasukan Israel dalam video mencegah perempuan tersebut menuju Masjid Al Aqsa.
Serangan itu terjadi setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengancam warga Palestina yang melempar batu atau bom molotov. Benjamin menyebut hal itu sebagai serangan mematikan dan mengatakan akan memberi hukuman penjara selama beberapa tahun untuk pelakunya.
Video 4

Video yang beredar pada detik ke-44 memperlihatkan seorang anak laki-laki yang berteriak saat pakaiannya tertarik. Menurut media yang menayangkan berita dan opini terkait isu Palestina, Israel dan Amerika Serikat, bernama Mondoweiss.net, hal itu terjadi di Tepi Barat, awal tahun 2015.
Berita menjelaskan remaja Palestina yang ada dalam video bernama Hamza Abu Hashem yang saat itu berusia 16 tahun. Video direkam kamera helm tentara Israel. Tentara juga memerintah anjing elit terlatih mereka untuk menyerang anak laki-laki itu hingga berteriak sebagaimana diperlihatkan dalam video.
Video 5

Pada menit ke-1 video yang tersebar itu memperlihatkan seorang pria berseragam memukul muka seseorang di depannya, menggunakan senjata api laras panjang. Media asal Belgia bernama La Libre memberitakan kejadian dalam video itu, dengan mengutip beberapa sumber, pada 16 April 2012.
Video itu menunjukkan seorang tentara Israel yang memukul seorang aktivis kemerdekaan Palestina asal Denmark bernama Andreas (20). Tentara bernama Letnan Kolonel Shalom Eisner itu pun dihukum skors setelah videonya viral dan memantik banyak kecaman.
Dilansir Reuters, 20 Juni 2013, Badan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pernah melontarkan tuduhan adanya penyiksaan oleh tentara Israel terhadap anak-anak Palestina, termasuk yang ditahan. Tuduhan itu mengatakan anak-anak itu juga dijadikan tameng hidup.
Kebanyakan akan-anak yang ditahan ialah, mereka yang ditangkap karena melempar batu, yang menurut hukum Israel bisa dikenai penjara dua puluh tahun. Sejumlah pengakuan tentara Israel mengkonfirmasi terjadinya penangkapan anak yang sering dilakukan secara sewenang-wenang.
Baru-baru ini, Badan HAM PBB kembali melontarkan tudingan bahwa tentara Israel telah menahan ribuan warga Israel secara rahasia dan memperlakukan mereka dengan buruk, disertai penganiayaan, sebagaimana diberitakan Voanews.com, 19 Januari 2023.
Hasil wawancara mereka terhadap korban menghasilkan sejumlah keterangan, di antaranya penahanan itu terjadi sekitar 30 sampai 55 hari. Sebagian dari mereka dilepaskan dalam kondisi mata ditutup dalam beberapa hari, dan hanya mengenakan pakaian dalam di cuaca dingin. Pihak Israel tidak menanggapi permintaan wawancara.
“Mereka (korban) menggambarkan (mendapatkan) pemukulan, penghinaan, perlakuan buruk dan apa yang mungkin termasuk penyiksaan,” kata perwakilan OHCHR di Wilayah Pendudukan Palestina, Ajith Sunghay.


judi

Benar, Klaim Anies Terkait Jumlah Laporan Kekerasan Terhadap Perempuan 8 Tahun Terakhir Mencapai 3,2 Juta Kasus – Portal Kesehatan Masyarakat

Dosen Hukum Ketenagakerjaan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Nabiyla Risfa Izzati, mengatakan bahwa klaim yang dinyatakan Anies tersebut benar, berdasarkan perhitungan rata-rata jumlah kasus yang dilaporkan ke Komnas Perempuan per tahun.

Dia mengutip data dari Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan yang menyatakan bahwa mereka mendapat 459.094 laporan kekerasan pada perempuan pada tahun 2022, dan pada 2021 sebanyak 457.895 kasus. Maka rata-ratanya 400 ribu per tahun.

“Jika konteksnya merujuk pada data kekerasan terhadap perempuan yang diadukan ke Komnas Perempuan, maka rata-rata pengaduan kekerasan yang diadukan ke Komnas Perempuan setiap tahunnya berkisar pada angka 400 ribuan. Jika dirata-rata, maka angka 3,2 juta kasus kekerasan seksual yang dilaporkan dalam 8 tahun terakhir itu tepat,” kata Nabiyla, Minggu, 4 Februari 2024.

Senior research associate Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG), Klara Esti, juga mengatakan bahwa kemungkinan yang dimaksud Anies adalah jumlah yang dihasilkan dari rata-rata kasar laporan yang masuk ke Komnas Perempuan per tahun.

“Ini mungkin adalah angka rata-rata kasar dengan asumsi bahwa dalam 8 tahun terakhir rata-rata per tahun terdapat sekitar 200-400ribu kasus kekerasan terhadap perempuan,” kata Klara, Minggu, 4 Februari 2024.

Di sisi lain, dia mengutip data Catahu Komnas Perempuan terkait jumlah kekerasan perempuan per tahun selama sembilan tahun terakhir secara rill. Jumlahnya per tahun dari 2015 sampai 2023 mencapai 3.263.585 kasus dengan total:

– 2015: 279.688- 2016: 321.752- 2017: 259.150- 2018: 348.446- 2019: 406.178- 2020: 431.471- 2021: 299.911- 2022: 459.094- 2023: 457.895



judi

8 Tahun Ada 3,2 Juta Kekerasan pada Perempuan – Portal Kesehatan Masyarakat

Apabila 8 tahun terakhir adalah catatan hingga 2023 ke belakang, maka angka yang disebutkan Anies terlalu besar.

Laporan kasus kekerasan pada perempuan di Komnas Perempuan medio 2015 – 2022:

2015 : 321.752

2016 : 259.150

2017 : 348.446

2018 : 406.178

2019 : 431.471

2020 : 299.911

2021 : 459.094

2022 : 457.895

Apabila jumlah kasus kekerasan pada perempuan di rentang tahun itu dijumlahkan maka totalnya sekitar 2,9 juta kasus, maka klaim yang disebut Anies angkanya terlalu besar.

Senior Research Associate Centre for Innovation Policy and Governance, Klara Esti, menyampaikan jika merujuk pada data kasus Komnas Perempuan, dalam 8 tahun terakhir rata-rata per tahun terdapat sekitar 400.000 kasus kekerasan terhadap perempuan. Pada 2023 terdapat 457.895 dan 2022 ada 459.094.

Hal senada disampaikan Direktur Eksekutif Setara Institute, Halili Hasan yang menyebut angka yang disebut Anies terlalu besar.

“Angkanya terlalu besar. Secara umum, jumlah pengaduan kasus menurun pada 2022 dari tahun sebelumnya, yaitu menjadi 457.895 dari 459.094 dari tahun sebelumnya. Sementara pada 2022 saja terdapat lonjakan hampir 800 persen, artinya sebelum itu sangat jauh lebih kecil.”



judi

Anies Baswedan Ada 3,2Juta Kasus Kekerasan pada Perempuan Selama 8 Tahun Terakhir – Portal Kesehatan Masyarakat

Hasil penelusuran tim Cek Fakta TIMES Indonesia bersama koalisi Cek Fakta serta panel ahli, menemukan bahwa pernyataan yang disampaikan Anies Baswedan bisa ditelusuri sebagai berikut.

Panel Ahli Cek Fakta Debat ke-5 Pilpres 2024, Senior Research Associate Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) Klara Esti mengatakan data yang disampaikan oleh Anies Baswedan merupakan angka rata-rata kasar dengan asumsi bahwa dalam 8 tahun terakhir rata-rata per tahun terdapat sekitar 200-400 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan.

Merujuk pada Catahu Komnas Perempuan 2016 hingga 2023, Catahu 2023 tercatat 457.895 kasus, Catahu 2022 dengan 459.094 kasus, Catahu 2021 dengan 299.911, Catahu 2020 dengan 431.471 kasus, Catahu 2019 dengan 406.178, kasus, Catahu 2018 dengan 348.446 kasus, Catahu 2017 dengan 259.150 kasus, Catahu 2016 dengan 321.752 kasus, Catahu 2015 dengan 279.688 kasus.

Dosen Hukum Ketenagakerjaan FH UGM, Nabiyla Risfa Izzati juga sependapat, jika konteksnya merujuk pada data kekerasan terhadap perempuan yang diadukan ke Komnas Perempuan, maka rata-rata pengaduan kekerasan yang diadukan ke Komnas Perempuan setiap tahunnya berkisar pada angka 400ribuan.

“Jika dirata-rata, maka angka 3,2 juta kasus kekerasan seksual yang dilaporkan dalam 8 tahun terakhir itu masuk akal,” kata Nabiyla.
Sumber: https://komnasperempuan.go.id/uploadedFiles/1466.1614933645.pdf