Jam Buka

Mon - Fri: 7AM - 7PM

Menampilkan: 1 - 3 dari 3 HASIL
judi

Mulai Pola Hidup Sehat di Masa Pandemi dengan Aktivitas Sederhana – Portal Kesehatan Masyarakat

Meningkatnya kasus aktif Covid-19 yang diperparah dengan peralihan musim yang saat ini terjadi, menjadi pengingat bagi kita untuk terus menjaga kesehatan baik secara fisik maupun mental. Perubahan cuaca yang tak menentu juga menyebabkan tubuh seseorang menjadi terus menerus harus beradaptasi, sehingga tidak heran ketika seseorang memiliki sistem imun yang tidak cukup kuat, akan mudah terserang penyakit.

Menurut Kotler, pola hidup sehat adalah gambaran dari aktivitas berdasarkan keinginan dan minat kita dan bagaimana pikiran kita menjalaninya dalam berinteraksi dengan lingkungan kita. Pola hidup sehat yang kita terapkan dapat secara positif kita tularkan kepada orang lain, khususnya kepada keluarga sehingga mereka juga dapat merasakan banyak manfaatnya.

Melihat urgensi demikian, maka jalan keluar yang harus ditempuh adalah dengan memulai pola hidup sehat setiap harinya. Pola hidup sehat bisa dimulai dari merubah hal-hal kecil dalam kehidupan kita yang kurang sehat, sehingga nantinya diharapkan dapat menerapkan pola hidup sehat secara total dan kondisi tubuh akan lebih sehat dan bugar.

Berikut ini adalah beberapa hal kecil yang dapat mulai kita perbaiki untuk bisa menerapkan pola hidup sehat.

Cukupi kebutuhan nutrisi harian tubuh dengan dengan mengkonsumsi makanan dengan cukup serat.

Memperbaiki pola waktu tidur menjadi 7-9 jam per malam.

Mulai berfikir positif, sehingga kesehatan mental akan menjadi lebih baik.

Rutin dalam melakukan olahraga, dimulai dengan olahraga ringan.

Demikian beberapa hal sederhana yang bisa mulai kita lakukan untuk memperbaiki pola hidup kita, terutama pada masa pandemi Covid-19 dan pancaroba seperti saat ini. Mari, tetap terapkan protokol kesehatan, baik ketika beraktivitas di dalam maupun di luar ruangan. Masyarakat juga diimbau untuk segera divaksinasi jika belum, agar herd immunity  dapat segera terbentuk, sehingga kematian serta hospitalisasi akibat Covid-19 dapat lebih diminimalisir.

 

Editor:

Eunice Margarini, SKM, MIPH

Marsha Anindita, S.Ds

Sumber ;

1.       https://dinkes.bantulkab.go.id/berita/1177-pentingnya-menjaga-pola-hidup-sehat-selama-masa-pandemi

 

 



judi

Langkah Sederhana Menghadapi KIPI – Portal Kesehatan Masyarakat

Tercapainya masyarakat yang sehat dengan herd immunity yang terbentuk secara sempurna, merupakan hal yang dicita-citakan pemerintah bersama dengan seluruh masyarakat Indonesia. Untuk itu, pemerintah terus mengupayakan berbagai kebijakan dan program yang dapat membantu terciptanya hal tersebut, salah satunya dengan menyelenggarakan Vaksinasi Covid-19.

Namun, kebijakan dan program tersebut bukan tanpa hambatan. Bagi beberapa masyarakat dengan kondisi tertentu, penyuntikkan vaksin akan menimbulkan beberapa efek samping bersifat sementara yang disebut KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Dengan demikian, beberapa masyarakat ada yang masih ragu untuk melakukan vaksinasi, sehingga berpengaruh kepada capaian vaksinasi serta terbentuknya herd immunity di tengah masyarakat. 

Padahal, KIPI sendiri merupakan hal yang cukup wajar. Terdapat beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk meringankan KIPI yang sedang dirasakan atau dialami, diantaranya adalah :

Segera beristirahat setelah divaksinasi

Apabila muncul demam, minum obat penurun panas sesuai dosis dan cukup minum air putih

Jika ada nyeri di tempat suntikan, tetap gerakkan tangan dan kompres dengan air dingin

Bila demam tidak kunjung turun dalam 48 jam setelah vaksinasi, segera isolasi mandiri dan lakukan tes Covid-19

Jika keluhan tidak berkurang, hubungi kontak petugas yang tertera pada kartu vaksinasi atau fasilitas kesehatan terdekat

Dengan melakukan beberapa hal diatas, diharapkan dapat menurunkan keraguan untuk bersegera melakukan vaksinasi. Vaksin Covid-19 yang digunakan telah terbukti aman dan bermanfaat, dengan mendapat EUA dari Badan POM. Segera lakukan vaksinasi dan mari berpartisipasi dalam terciptanya kekebalan secara kelompok di tengah masyarakat.

 

Editor:

Eunice Margarini, SKM, MIPH

Marsha Anindita, S.Ds

Sumber :

1.       https://covid19.go.id/artikel/2022/01/27/atasi-kipi-begini-caranya

 

 



judi

[Cerita Lapangan] Katanya, Pesan kita sederhana bila anak SD paham – Portal Kesehatan Masyarakat

Caption:

Hari ini saya dapat kesempatan untuk sosialisasi penyakit cacing di SDN 01 Jakarta Pusat. Pesertanya adalah anak kelas 4 SD. Saya langsung teringat ucapan salah satu pakar komunikasi kesehatan dalam suatu diskusi, “Materi kita dapat dikatakan sederhana dan mudah dipahami bila anak SD paham materi kita.”

Durasi sosialisasi saya sempit, hanya 15 menit. Selain prinsip-prinsip bina suasana untuk memulai diskusi, saya coba menerapkan 3 aspek dalam KAP.

Pertama, pertanyaan pembuka. Katanya, edukasi lebih bagus masuk dari pengalaman warga. Lebih relate. Membuat orang memiliki sense of ownership terhadap isu tersebut. Sehingga saya coba tanya kepada mereka, “Adek-Adek, pagi ini sudah sarapan pakai apa?”, Spontan beberapa dari mereka menjawab “Ayam!”, “Nasi Uduk!”, “Roti!”

Kedua, saya langsung elaborasi dengan prinsip perumpamaan. “Apakah adik-adik kebayang kalau makanan sarapan tadi (roti, ayam, nasi uduk) setelah dimakan dan masuk ke perut, sebelum diserap tubuh, eh malah dicuri dan dimakan sama hewan yang numpang hidup di perut kita?”. Saya lihat wajah kebingungan pada beberapa dari mereka.

Saya lanjutkan perumpamaan saya tersebut. Hewan tersebut adalah cacing. Ia bisa hidup dan tinggal di perut kita. Mencuri dan makan dari makanan yang kita makan. Lalu tumbuh besar, berkembang biak, tambah banyak, dan pastinya akan bikin kita kekurangan nutrisi makanan karena diambilin terus.

Saya coba tambahan solusi sederhana pencegahan yang dapat dilakukan anak-anak tersebut. Cacing ini dapat masuk ke perut melalui mulut dan kaki kita. Untuk mencegah cacing masuk dari mulut, solusinya adalah cuci tangan saat sebelum makan. Sementara untuk mencegah masuk dari kaki, gunakan alas kaki saat keluar rumah. Karena bila kita nyeker, cacing dapat menembus kulit dan berusaha mencari jalan untuk tinggal nyaman dan makan gratis di perut kita.

Ketiga dan terakhir, saya tutup dengan kunci komitmen. Ini bagian tersulit sebetulnya bagi saya namun penting untuk dilakukan.

“Jadi Adik-Adik, mau gak melihara cacing di perutnya?”

“Nggaaa”

“Terus gimana caranya biar gak cacingan?”

sontak sebagian kecil dari mereka menjawab sembari diikuti temannya… “cuci tangaan sebelum makan dan tiduur..ganyeker pas main keluar rumah”

“Bener? nanti kalo lupa cuci tangan gimana keburu makan?”

“Nanti langsung cucii tangan”

Sekian cerita lapangan saya, memang banyak yang belum tersampaikan. Perumpamaannya juga tidak terlalu ilmiah. Tapi begitulah konsekuensi perumpamaan, kelengkapan dan ketepatan pesan jadi harus kita korbankan demi pemahaman warga. Semoga pengalaman singkat ini bermanfaat bagi rekan-rekan sesama praktisi kesehatan! 😁