Jam Buka

Mon - Fri: 7AM - 7PM

Menampilkan: 1 - 10 dari 11 HASIL
judi

Benar, Klaim Ganjar soal Cegah Stunting Dapat Dilakukan dengan Memberikan Gizi Sejak Dalam Kandungan atau Ibu Hamil – Portal Kesehatan Masyarakat

Dalam Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting setidaknya ada tiga pendekatan dalam upaya percepatan penurunan stunting di Indonesia yaitu intervensi gizi, pendekatan keluarga berisiko dan pendekatan multisektor.

Stunting sendiri diketahui merupakan kondisi gagal tumbuh yang mempengaruhi fisik dan otak anak, akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama. Meski demikian banyak faktor penyebab lainnya, seperti faktor perilaku, lingkungan sosial budaya dan ekonomi, serta pelayanan kesehatan.

Dikutip dari TEMPO, faktor penyebab stunting antara lain adalah masalah asupan nutrisi kurang. Karena itu Langkah pencegahan stunting dapat dilakukan dengan memperbaiki pola makan, pola asuh, dan peningkatan sanitasi serta air bersih. Dengan memberikan protein hewani yang penting untuk mencegah stunting, memperbaiki pola asuh sejak dari masa kandungan dengan menutrisi dan mengedukasi ibunya, serta mencegah infeksi.

Dalam buku Kebijakan dan Strategi Penurunan Stunting, intervensi gizi secara langsung pada ibu hamil dapat menurunkan resiko terjadinya stunting. Intervensi ini seperti memberikan asupan gizi yang cukup selama masa kehamilan hingga 23 bulan.

Penelitian Ni Wayan Dian Ekayanthi dan Pudji Suryani dari Poltekkes Bandung seperti diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan, Volume 10, Nomor 3, November 2019 mendapati upaya perbaikan yang diperlukan untuk mengatasi stunting salah satunya adalah melalui intervensi gizi spesifik pada ibu hamil. Kelas ibu hamil merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menyebarkan informasi yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan saat kehamilan untuk mencegah stunting.

Menurut Anis Fuad, Dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM, secara lebih lengkap sebenarnya intervensi terhadap stunting dapat dimulai pada kelompok remaja, menjadi pasangan usia subur (PUS), kehamilan, masa neonatus sampai dengan balita.



judi

Ganjar Sebut Cegah Stunting dengan Gizi Sejak Dalam Kandungan, Benarkah? – Portal Kesehatan Masyarakat

Hasil penelusuran tim Cek Fakta TIMES Indonesia bersama koalisi Cek Fakta serta panel ahli, menemukan bahwa pernyataan yang disampaikan Ganjar Pranowo bisa ditelusuri sebagai berikut.

Langkah pencegahan stunting yang dilaksanakan oleh Kemenkes RI termasuk di dalamnya adalah memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil. Tindakan tersebut relatif ampuh karena Lembaga Kesehatan Millenium Challenge dalam laporan Kementerian Kesehatan menyarankan agar ibu yang sedang mengandung selalu mengonsumsi makanan sehat dan bergizi maupun suplementasi.

Sumber:
https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1092/cegah-stunting-sejak-dalam-masa-kehamilan
https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.4081/jphr.2021.2235

Associate Professor, Data Science Program Monash University Indonesia & Co-director Monash Data and Democracy Research Hub, Derry Wijaya menjelaskan, dalam sebuah penelitian terkait pengaruh faktor ibu dan anak terhadap stunting, status gizi selama periode perinatal dan asupan gizi pasca-maternitas menjadi faktor penting untuk mencegah stunting.

Ibu yang melahirkan dengan selang waktu yang relatif pendek, status gizi yang tidak memadai selama kehamilan, kenaikan berat badan yang tidak sesuai selama kehamilan, dan mengalami penyakit menular selama kehamilan merupakan indikator yang secara signifikan berkontribusi pada pembentukan faktor-faktor maternal yang menyebabkan stunting.

Anak dengan berat lahir rendah, lahir prematur, tidak hanya diberi ASI secara eksklusif, konsumsi susu formula setelah 6 bulan yang tidak sesuai dengan dosis yang dianjurkan, dan sering mengalami penyakit menular yang parah adalah indikator yang secara signifikan berkontribusi pada pembentukan faktor-faktor anak yang mengalami stunting. Kejadian stunting memang lebih dipengaruhi oleh faktor anak daripada faktor maternal. Namun, faktor maternal memiliki pengaruh yang signifikan pada faktor anak, yang berdampak pada stunting.

Faktor anak dan maternal memiliki pengaruh masing-masing sebesar 49,8 persen dan 30,3 persen terhadap keadaan pendek. Faktor anak utama adalah dosis susu formula bayi, sedangkan faktor maternal utama adalah status gizi.
Sumber: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8841971/



judi

Mengenal 3 Tips Pencegahan Stunting – Portal Kesehatan Masyarakat

“Apa itu stunting?” sebuah pertanyaan yang mungkin tidak banyak masyarakat bisa menjawabnya, padahal stunting merupakan salah satu penyakit kronis yang merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia yang dapat mempengaruhi tingkat daya saing bangsa Indonesia di kancah internasional.

Stunting adalah masalah kurang gizi tahap kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga adanya gangguan terhadap tumbuh kembang anak yang menyebabkan anak memiliki ukuran tubuh pendek dari rata-rata anak lain yang sama usianya.

Stunting sering dikatakan sebagai kondisi keturunan (genetik), sehingga penyebab dan pencegahan sering diabaikan. Padahal genetik sebagai penyebab stunting merupakan faktor yang memiliki peran paling kecil. Pengaruh paling besar terletak pada perilaku, lingkungan dan pelayanan kesehatan.

Tips Mencegah Stunting

Penyakit stunting dapat dicegah dengan menerapkan 3 Tips Pencegahan stunting, di antaranya adalah sebagai berikut:

Pola makan

Asupan gizi yang cukup dan seimbang, merupakan salah satu faktor penting untuk mencegah terjadinya stunting pada anak. Sehingga makanan yang mengandung gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari sejak dini.

Pola asuh

Pola asuh terutama dalam mengetahui dan pemenuhan terhadap gizi bayi, merupakan hal yang penting untuk diketahui oleh orang tua. Bersiaplah untuk bisa memberikan ASI hingga usia 6 bulan, dan membawa bayi ke posyandu untuk melakukan pemantauan tumbuh kembangnya.

Sanitasi dan akses air bersih

Kurangnya akses sanitasi dan air bersih merupakan pemicu dari terpaparnya seorang anak dari penyakit infeksi. Untuk itu, biasakan anak untuk cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan sejak dini.

Dengan menerapkan 3 tips pencegahan stunting di atas, diharapkan mampu menurunkan angka stunting di Indonesia . Selain itu, diharapkan juga masyarakat lebih memahami dan menerapkan sikap preventif untuk membangun generasi penerus yang bebas dari ancaman stunting.

Review: Astasari

Mutiara Rani

 



judi

Cegah Stunting Itu Penting – Portal Kesehatan Masyarakat

Fakta Kunci:

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kurang gizi dalam jangka waktu lama, paparan infeksi berulang, dan kurang stimulasi. Stunting dipengaruhi oleh status kesehatan remaja, ibu hamil, pola makan balita, serta ekonomi, budaya, maupun faktor lingkungan seperti sanitasi dan akses terhadap layanan kesehatan 

1 dari 4 anak Indonesia mengalami stunting, kurang lebih ada 5 juta anak Indonesia mengalami stunting (Studi Status Gizi Indonesia, 2021). 

Bila generasi penerus kerap mengalami stunting, akankah Indonesia melihat generasi emas-nya di 2045?

Indonesia menargetkan angka stunting turun hingga 14% pada tahun 2024, sementara angka stunting di tahun 2021 mencapai 24%

23% bayi lahir sudah stunting, maka intervensi harus dimulai sebelum bayi lahir—bahkan sejak perempuan masih di usia remaja.

Gap dalam permasalahan stunting di Indonesia 

8,3 juta dari 12,1 juta remaja putri tidak mengkonsumsi tablet tambah darah dan berisiko anemia

2,8 juta dari 4,9 juta Ibu hamil tidak periksa kehamilan minimal 6x

Hanya 46.000 dari 300.000 Posyandu aktif beroperasi

6,5 juta dari 22 juta balita tidak dipantau pertumbuhan dan perkembangannya

1.5 juta relawan kader belum memiliki standardisasi kemampuan

Perbedaan antara balita normal dan stunting terlihat dari sisi tinggi badan. Balita stunting terlihat lebih pendek dari balita seusianya. Namun, perbedaan yang tidak terlihat antara keduanya adalah otak anak stunting tidak terbentuk dengan baik dan dapat berdampak panjang.

Pemerintah telah berusaha melalui Gerakan Cegah Stunting dengan 5 kegiatan 

Gerakan #AksiBergizi : Membentuk kebiasan olahraga, sarapan dan konsumsi tablet tambah darah untuk menurunkan anemia pada remaja di sekolah

Gerakan #BumilSehat : Meningkatkan pemeriksaan dan pengetahuan Bumil untuk meningkatkan kesehatan bumil

Gerakan #PosyanduAktif : Meningkatkan cakupan tumbuh kembang balita di Posyandu untuk deteksi dini dalam mencegah balita gizi kurang dan stunting

Gerakan #JamboreKader : Meningkatkan kapabilitas kader dalam memberikan pelayanan

Gerakan #CegahStuntingituPenting : Mengedukasi masyarakat tentang stunting dan pencegahannya melalui pesan ABCDE

Tag line “CEGAH STUNTING ITU PENTING”

 

Pesan ABCDE bebas stunting

(A) Aktif minum Tablet Tambah Darah

Konsumsi TTD bagi remaja putri 1 tablet seminggu sekali.

Konsumsi TTD bagi Ibu hamil 1 tablet setiap hari (minimal 90 tablet selama kehamilan)

(B) Bumil teratur periksa kehamilan minimal 6 kali

Periksa kehamilan minimal 6 (enam) kali, 2 (dua) kali oleh dokter menggunakan USG

(C) Cukupi konsumsi protein hewani

Konsumsi protein hewani setiap hari bagi bayi usia di atas 6 bulan

(D) Datang ke Posyandu setiap bulan

Datang dan lakukan pemantauan pertumbuhan (timbang dan ukur) dan perkembangan, serta imunisasi balita ke posyandu setiap bulan

(E) Eksklusif ASI 6 bulan

ASI ekslusif selama 6 bulan dilanjutkan hingga usia 2 tahun.

Sumber data:

Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, 2012, Population Reference Bureau, 2012, National Center of Biotechnolgoy Information (NCBI), 2014

World Bank, 2020

Capaian intervensi spesifik (intervensi yang mengatasi penyebab langsung dari stunting) | 2. Tablet Tambah Darah. Kemenkes, 2022.

 


judi

Protein Hewani Cegah Stunting – Portal Kesehatan Masyarakat


Stunting adalah salah satu masalah kesehatan yang masih banyak kita temukan di Indonesia, yaitu sekitar 21,6% (SSGI 2022). Meski demikian, Kementerian Kesehatan optimis untuk bisa melakukan Prevalensi stunting hingga mencapai 14% pada tahun 2024. Sehingga dengan demikian, pemerintah akan terus mengupayakan penurunan stunting sebanyak 2,7 persen setiap tahunnya.

Adapun upaya yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, salah satunya adalah dengan mengangkat tema “Protein Hewani Cegah Stunting” pada Hari Gizi Nasional ke-63 pada tahun ini. Perlu diketahui bahwa protein hewani adalah instrumen gizi yang dibutuhkan oleh ibu hamil guna mencegah stunting pada anak, hal ini dikarenakan pangan hewani mempunyai kandungan zat gizi yang lengkap, kaya protein hewani dan vitamin yang sangat penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan.

Dalam keterangannya, Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia Prof. Hardiansyah juga mendukung urgensinya pemberian protein hewani terhadap penurunan angka stunting. Beliau mengatakan bahwa gangguan pertumbuhan janin dalam kandungan menjadi salah satu penyebab utama anak lahir stunting, salah satunya karena komponen gizi. “Ini bukti pemberian telur satu butir satu hari pada anak setelah pemberian ASI eksklusif itu menurunkan risiko stunting,”

Selain pemberian protein hewani, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah stunting pada anak, diantaranya adalah sebagai berikut:

Mempersiapkan dan memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil, dengan rutin minum Tablet Tambah Darah dan mengkonsumsi gizi seimbang kaya protein hewani selama kehamilan.

Memberikan ASI Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan

Memberikan MPASI yang kaya protein hewani untuk bayi usia diatas 6 bulan.

Terus memantau perkembangan anak dan membawa si Kecil ke Posyandu secara berkala

Menjaga kebersihan lingkungan

Dengan menerapkan beberapa tips mencegah stunting di atas, diharapkan bisa meminimalisir potensi stunting pada generasi penerus Indonesia, sehingga kedepannya diharapkan bisa menjadi sumber daya yang unggul dan berdaya saing.

Tetap terapkan perilaku hidup bersih dan sehat dan bersegera untuk melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan apabila membutuhkan konsultasi maupun pemeriksaan kesehatan. 

 

 



judi

Yuk Cegah Stunting! – Portal Kesehatan Masyarakat


Yuk Cegah Stunting!

Hari Gizi Nasional tepat diperingatkan pada 25 Januari 2023 lalu, dan dalam kesempatan tersebut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan hasil Survei Status Gizi Nasional Indonesia 2022 dan memberitakan kabar baik bahwa angka stunting di Indonesia turun 2,8% dari tahun 2021, hore!

Tapi tau gak sih, kalau sudah mengalami stunting itu… sudah terlambat… Jadi PENCEGAHAN itu sangat penting! Mengapa? Karena kemungkinan sembuh dari stunting itu sangat kecil, beneran deh… Padahal langkah mencegahnya itu sebenarnya MUDAH!

Salah satunya ya dengan memberikan protein hewani kepada bayi usia dua tahun melalui MPASI. Protein hewani artinya sumber protein berasal dari produk-produk hewan. Banyak lho produk lokal yang sangat bermanfaat untuk mencegah stunting, misalkan telur, susu, daging, dan ikan!

Inilah beberapa protein hewani untuk si kecil agar tumbuh kembangnya baik dan bisa mencegah stunting.

Biskuit, atau snack lain sih boleh… Tapi kalau sampai tidak diberikan protein hewani yang cukup, wah susah sih mencegah stunting.

Oh ya, selain berikan protein hewani, ada langkah lain yang tidak kalah penting loh. “Ditimbang tidak naik, segera kirim ke Puskesmas, 90 persen sembuh. Kalau ditunggu sampai stunting, hanya 20 persen yang sembuh. Jangan tunggu stunting, segera ke Puskesmas untuk penanganan, lebih banyak dikasih protein hewani.” ungkap bapak Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan pada kesempatan tanggal 25 Januari 2023 lalu.



judi

Ini Dia Takaran Protein Hewani untuk Cegah Stunting! – Portal Kesehatan Masyarakat


Siap Cegah Stunting, tapi......

Bunda Ayah juara itu… Yang siap mencegah stunting sang buah hatinya! ✨ Tapi mungkin ada yang bingung ya, protein hewani yang mau diberikan dalam MPASI itu berapa banyak jumlahnya?

Resep makanan si kecil agar tidak stunting

Protein hewani lokal tuh banyak, kok! Diantaranya telur ayam dan ikan yang cukup mudah didapat di sekitar kita. Takarannya pun cukup mudah! Nih mimin kasih tau yea…

  • Bayi 6-8 bulan: telur 1 buah ukuran sedang atau ikan 4 sendok makan
  • Bayi 9-11 bulan: telur 1 buah ukuran besar atau ikan 5 sendok makan
  • Bayi 1-2 tahun: telur 1 buah ukuran besar atau ikan 6 sendok makan

Nah itu dia resep dari Kemenkes yang gampang banget buat bunda dan ayah bikin di rumah, lho!

Ingat ya bunda dan ayah, stunting itu artinya sudah terlambat. Karena kemungkinan kecil dapat sembuh. Jadi pastikan kita cegah stunting, salah satunya dengan berikan si kecil makanan kaya protein hewani!

Makanan kaya protein hewani, salah satu cara cegah stunting!

Ikuti juga instagram Portkesmas untuk tahu informasi lebih lanjut, klik disini



judi

4 Cara Mencegah Stunting – Portal Kesehatan Masyarakat

Pada penyelenggaraan Hari Gizi Nasional ke-63 di tahun ini, Kementerian Kesehatan mengangkat tema “Protein Hewani Cegah Stunting”. Pada tema tersebut menyadarkan kita bahwa stunting masih menjadi masalah kesehatan yang banyak kita temukan disekitar. Pendapat tersebut juga dibuktikan dengan capaian stunting pada tahun 2022 yang mencapai 21,6% (SSGI 2022).

 

Dengan demikian, pemenuhan protein hewani pada ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita harus terus mendapatkan perhatian. hal ini dikarenakan pangan hewani mempunyai kandungan zat gizi yang lengkap, kaya protein hewani dan vitamin yang sangat penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan Si Kecil.

 

 

Selain pemenuhan protein hewani, terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisir potensi stunting pada anak, dianataranya adalah sebagai berikut;

 

1.  Memberikan ASI eksklusif pada bayi hingga berusia 6 bulan

2.  Memantau perkembangan anak dan membawa ke posyandu secara berkala

3.  Mengkonsumsi secara rutin Tablet tambah Darah (TTD)

4. Memberikan MPASI yang begizi dan kaya protein hewani untuk bayi yang berusia diatas 6 bulan

 

Dengan melakukan berbagai cara mencegah stunting pada anak diatas, diharapkan mampu meminimalisir potensi stunting pada anak-anak di Indonesia.

 

Tetap terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta bersegera untuk melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala penyakit, agar bisa segera mendapatkan penanganan sedini mungkin dari para petugas kesehatan.

 



judi

Gejala Stunting yang Harus Diwaspadai – Portal Kesehatan Masyarakat


Bertepatan dengan perayaan Hari Gizi Nasional ke-63 pada tanggal 25 Januari 2022 yang lalu, Kementerian Kesehatan mengumumkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia mengalami penurunan menjadi 21,6% setelah sebelumnya menyentuh angka 24,4% pada tahun 2021. Capaian tersebut merupakan hasil upaya Kementerian Kesehatan bersama dengan seluruh lapisan masyarakat dalam mencegah terjadinya stunting sedini mungkin.

Namun demikian, kewaspadaan terhadap potensi stunting pada anak, harus terus dilakukan sehingga potensi stunting pada anak dapat segera dicegah dan mendapatkan penanganan dari petugas kesehatan.

STUNTING  adalah “Gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan anak berada di bawah standar.” 

Para orang tua juga diharapkan bisa melakukan pencegahan dengan memberikan ASI Eksklusif pada anak sampai usia 6 bulan dan melanjutkan pemberian ASI sampai 2 tahun, memberikan MPASI yang kaya akan protein hewani, membawa anak ke posyandu untuk dipantau pertumbuhan dan perkembangannya, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu dalam rangka mempersiapkan kehamilan pada wanita usia produktif, dianjurkan untuk rutin mengkonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sejak remaja.

Dengan memahami upaya pencegahan dan stunting pada anak, diharapkan dapat meminimalisir potensi anak terlahir stunting, sehingga terciptanya generasi penerus Indonesia yang sehat dan mampu berdaya saing dapat terwujud.

Tidak lupa untuk segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat apabila anak mengalami gejala stunting, agar anak ditangani sedini mungkin oleh petugas kesehatan.

 



judi

4 Gejala Stunting yang Harus Diwaspadai – Portal Kesehatan Masyarakat

Bertepatan dengan perayaan Hari Gizi Nasional ke-63 pada tanggal 25 Januari 2023 yang lalu, Kementerian Kesehatan mengumumkan bahwa penurunan prevalensi stunting Indonesia berhasil turun menyentuh angka 21,6% setelah sebelumnya pada tahun 2021 berada pada angka 24,4%.

 

Capaian diatas merupakan hasil dari kerjasama yang baik antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat yang berjuang untuk meminimalisir potensi stunting pada generasi penerus Indonesia. Namun kenyataan bahwa stunting masih ada di sekitar kita membuat perjuangan untuk mencegah stunting masih harus terus dilakukan.

 

Cara yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah stunting adalah dengan mengetahui dan memahami gejala stunting yang muncul pada anak. Sehingga penanganan dapat segera dilakukan oleh petugas kesehatan.

 

 

Berikut ini adalah beberapa gejala stunting pada anak yang harus diwaspadai oleh para orangtua, diantaranya adalah:

 

1. Pertumbuhan tulang pada anak yang tertunda

2. Berat badan rendah apabila dibandingkan dengan anak seusianya

3. Sang anak berbadan lebih pendek dari anak seusianya

4. Proporsi tubuh yang cenderung normal tapi tampak lebih muda/kecil untuk seusianya.

 

Upaya pencegahan untuk mengatasi stunting adalah hal yang utama. Para orangtua diharapkan bisa rutin melakukan pemeriksaan kandungan ke fasilitas kesehatan terdekat, rutin mengkonsumsi Tablet Tambah Darah, serta memenuhi asupan gizi, seperti protein hewani yang baik bagi tumbuh kembang janin. Remaja putri aktif minum tablet tambah darah 1 tablet seminngu sekali. Pemberian ASI ekslusif pada bayi selama 6 bulan. bayi di atas enam bulan diberikan konsumsi protein hewani dan tetap melanjutkan ASI. Jangan lupa datang ke Posyandu setiap bulan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan serta imunisasi balita.