Jam Buka

Mon - Fri: 7AM - 7PM

Menampilkan: 1 - 3 dari 3 HASIL
judi

[SALAH] Video “Ade Armando Bongkar Rahasia Sejak Awal COVID-19 sampai Juni 2021 Sudah 14 Juta Tentara Masuk Indonesia”


[SALAH] Video “Ade Armando Bongkar Rahasia Sejak Awal COVID-19 sampai Juni 2021 Sudah 14 Juta Tentara Masuk Indonesia”

Berdasarkan hasil penelusuran, adanya video yang memperlihatkan Ade Armando yang sedang menyampaikan klaim adanya jutaan tentara Cina masuk ke Indonesia merupakan konten yang dimanipulasi.

Faktanya, video tersebut dipotong sehingga Ade Armando seolah sedang menyampaikan klaim adanya jutaan tentara Cina masuk ke Indonesia. Pada video versi lengkapnya, Ade Armando justru sedang mengatakan bahwa klaim tersebut adalah informasi yang tidak berdasar.

Video dengan durasi lebih lama pertama kali diunggah di kanal Youtube CokroTV pada 21 Agustus 2021 dengan judul “PRANK INVASI CINA KE INDONESIA | Logika Ade Armando”.

Dalam video aslinya Ade Armando benar menyinggung soal isu masuknya tentara Tiongkok ke Indonesia, namun jika dilihat lebih lanjut, Ade Armando sejatinya memberi tanggapan terhadap imajinasi atau opini masyarakat terkait isu tersebut. Berikut pernyataan lengkap Ade Armando yang dimulai dari detik ke 0:17 sampai dengan menit ke 1:27 :

“Kelompok-kelompok kadrun terus memanfaatkan kegentingan situasi Covid-19 ini untuk membangun kebohongan tentang apa yang mereka sebut Invasi Cina ke Indonesia. Saat ini beredar di beberapa WhatsApp group, tulisan-tulisan yang seolah merujuk pada penyelidikan intelijen, tentang invansi Cina ke Indonesia. Bagi kita yang berakal sehat, informasinya sangat tidak masuk akal.

Namun kalau kita baca berbagai respons yang disampaikan, kita layak khawatir bahwa kebohongan yang terus diulang-ulangi ini, sangat mungkin menyesatkan pikiran banyak warga biasa.

Saya kutipkan saja ya tulisan-tulisan yang seolah berbasis laporan intelijen itu dalam bahasa saya. Jadi digambarkan bahwa sejak awal Covid-19 (akhir 2019) sampai Juni 2021. Jumlah tentara Cina yang masuk ke Indonesia dengan sepengetahuan dan restu Pemerintah Jokowi sudah mencapai 14 juta orang. Menurut laporan intelijen ini, gelombang kedatangan tentara Cina memanfaatkan kelengahan masyarakat Indonesia yang sedang terpusat perhatiannya pada pandemi”

Pada akhir video, Ade kembali menegaskan daftar informasi tidak berdasar itu merupakan imajinasi liar mereka yang tidak berakal sehat. Ade menegaskan informasi ini mudah “dimakan” orang yang memiliki ‘kebencian’ sejak awal terhadap sesuatu.

“Bagi mereka yang tak berakal, kisah-kisah provokatif ini bisa menjadi landasan kebencian yang akan terus tumbuh. Karena itu, mari terus gunakan akal sehat,” tegas Ade.



judi

[SALAH] Herd Imunity, Pandemi sudah Berakhir – Portal Kesehatan Masyarakat


[SALAH] Herd Imunity, Pandemi sudah Berakhir

Beredar video melalui akun Tiktok @doktertifa yang menjelaskan terkait herd imunity atau kekebalan komunal yang sudah dicapai rakyat Indonesia, maka tidak perlu ragu lagi untuk menyatakan bahwa pandemi sudah berkahir.

Setelah ditelusuri, mengutip Voaindonesia.com memang benar bahwa telah dilakukan sero survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan yang bekerja sama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (UI). Sero survei tersebut dilakukan di 21 kabupaten/kota dan tujuh provinsi yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jogjakarta dan Bali pada akhir Maret 2022, dengan hasil setidaknya 99,2 persen masyarakat Indonesia yang tinggal di Jawa-Bali sudah memiliki antibodi COVID-19.

Namun, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmidzi mengungkapkan dengan adanya hasil sero survei tersebut bukan berarti bahwa Indonesia telah memasuki fase kekebalan komunal (Herd Imunity). Menurutnya, ada beberapa indikator yang harus dipenuhi untuk memenuhi itu seperti, cakupan vaksinasi (dua dosis) minimal harus 70 persen, kemudian kita harus lihat indikator-indikator lainnya seperti misalnya tingkat penularan atau angka reproduksi virus masih satu, harusnya di bawah satu untuk kurun waktu yang lama. Nadia melaporkan, masyarakat Indonesia yang sudah mendapatkan dua dosis vaksinasi COVID-19 baru 54 persen, sedangkan untuk Jawa-Bali sendiri baru 64 persen masih belum mencapai 70 persen sebagai syarat kekebalan komunal (Herd Imunity).

Dikutip dari covid19.go.id level situasi pandemi di Indonesia masih berada di level 2, dengan definisi insiden sedang, kasus yang didapat secara lokal dan tersebar luas yang terdeteksi dalam 14 hari terakhir; transmisi sudah tidak terlalu terfokus pada subkelompok populasi tertentu. Risiko infeksi sedang untuk populasi umum. Dalam Putusan Mahkamah Agung No. 31 P/HUM/2022, juga tidak ditemukan pernyataan tentang berakhirnya pandemi Covid-19.

Berdasarkan penjelasan di atas, klaim tentang tercapainya herd imunity dan berakhirnya pandemi adalah salah dan termasuk dalam kategori konteks yang salah.



judi

Bagi Masyarakat, Vaksinasi Covid-19 Sudah Tidak Diperlukan – Portal Kesehatan Masyarakat

Menunggu datangnya warga untuk vaksinasi
Menunggu datangnya warga untuk vaksinasi

Minat masyarakat untuk vaksinasi COVID-19 hingga dosis booster sudahlah menurun. Hal tersebut terlihat dari capaian vaksinasi yang rendah sekali tiap hari-nya. Jauh sekali dibandingkan dengan laju vaksinasi di awal pemberian vaksinasi dulu. Saya pun juga melaksanakan pelayanan vaksinasi. Mungkin dalam sehari pelayanan di Puskesmas, saya hanya dapat 10 orang. Terpakai paling banyak 2 vial vaksin, itu pun vial kedua sering masih tersisa beberapa dosis.

Saya pun bertanya pada mereka yang tetap datang untuk melengkapi dosis vaksinasinya hingga booster. Mayoritas dari mereka menjawab antisipasi rencana berpergian dengan kereta dan pesawat. Momentumnya memang tepat, kedepan ada momen mudik dan pulang kampung. Ada beberapa juga sih temuan lucu, misalnya seperti syarat menikah dari kelurahan harus lampirkan sertifikat vaksin booster. Hahaha. Masa batal menikah karena belum booster!

Tapi demikianlah realita kita hari ini untuk program vaksinasi booster ini. Kondisi pandemi yang membaik dan kebijakan yang sudah lebih renggang seperti tidak adanya lagi pengecekkan pedulindungi di tempat publik jadi faktor pendukung turunnya minat masyarakat. Rasanya sulit kalau tidak ada inovasi lain untuk dapat mencapai target pemerintah di masa transisi pandemi ini terkait cakupan vaksinasi booster yang harus mencapai 50% untuk usia diatas 18 keatas.

Kalau melihat studi kualitatif yang dilakukan oleh John Hopkins CCP (JHCCP) pada tahun 2022, ketakutan masyarakat terkait COVID-19 memang sudah menurun. COVID-19 hanya seperti common cold. Sudah tidak seberbahaya dulu. Bahkan orang jadi lebih takut dengan vaksinasi-nya dibandingkan dengan penyakitnya.

Temuan menarik juga saya temukan di survei Nielsen-UNICEF di akhir tahun 2022. Hampir 50% dari partisipan survei yang sudah dosis lengkap (dua dosis) tidak mau mengambil dosis berikutnya (booster). Beberapa alasan yang dominan mengapa orang tidak mau divaksinasi adalah khawatir efek samping dan norma sosial (menunggu orang lain).

Saya tertarik dengan persepsi kekhawatiran masyarakat terkait efek samping vaksinasi. Rasanya dengan sudah diberikannya 400 juta suntikan bagi warga Indonesia saat ini, apalagi yang perlu dikhawatirkan. Selain itu, rasanya komunikasi kita terkait Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) sudah sangat masif. Vaksinasi tidak akan sebabkan orang lumpuh, penyakit serius, atau bahkan kematian.

Ternyata berdasarkan survei tersebut, kekhawatiran masyarakat tidak sejauh itu. Kekhawatiran yang paling dominan di masyarakat terkait efek samping dari vaksinasi adalah khawatir tubuhnya jadi lemah. Asumsi saya ini berkaitan dengan faktor ekonomi, orang tidak mau produktivitasnya terganggu dalam bekerja dalam beberapa hari akibat KIPI setelah vaksinasi.

Selain itu, Kemenkes pada bulan Januari 2023 juga sudah mengeluarkan riset terbaru terkait kekebalan masyarakat Indonesia terhadap COVID-19. Hasilnya sejalan dengan kondisi saat ini. 99% masyarakat Indonesia sudah punya kekebalan terhadap COVID-19.

Lantas, apakah vaksinasi booster masih diperlukan? Bila masih diperlukan, apa yang perlu kita lakukan agar orang mau vaksin hingga booster?

BA
Jakarta, 24 Maret 2023